Selasa, 25 Desember 2018

PERKARA DUA BARIS SEMUT BERIRING


Cerpen ini dimuat pertama kali di koran:  SOLOPOS, Minggu  16 Desember 2018.
Perkara Dua Baris Semut Beriring
Oleh  Pangerang P. Muda
Sebelum kejadian yang sekarang, susah hati Suar oleh ulah perempuan sudah pernah terjadi. Bahkan ia kenang ketika itu air matanya sampai rebak. Ia merasa telah mengerahkan semua kebisaannya dalam mencintai perempuan, tapi imbalnya hanya kalimat, “Sebaiknya kita putus. Aku merasa bosan pacaran dengan kamu. Terlalu monoton. Kamu kurang romantis, tidak pandai memberi kejutan.”
Tak kuasa ia elakkan, momen itu teringat lagi ketika ia duduk berhadap-hadapan dengan istrinya, diantarai bulat meja makan, dan istrinya berkata, “Bagaimana menurutmu, Pa, kejutan dariku?”
Tadi pagi ketika menyambutnya di pintu depan, ia sudah rasakan ada keanehan di wajah istrinya. Namun ia belum terlalu mengamati. Sekarang, saat menatap lekat, ia temukan keanehan itu.

Kian lekat menatap, ia merasa kian bersusah hati. Setelah tak tahan, akhirnya ia menyergah, “Sampai hati kamu, Kiya, merusak apa yang amat kusukai padamu.” Dan setelahnya, tanpa dapat ia cegah, momen seperti di masa remajanya terulang: susah hati oleh ulah perempuan, membuat matanya merebak basah.
***
Bergulung mundur, ingatan Sukiya kembali ke kejadian sebelumnya, di mana muasal masalah ini. Kepalanya bersandar di kursi salon, matanya memejam, mencoba melelakan pikiran pada aktivitas pekerjaan suaminya. Dia bisa khayalkan itu karena suaminya biasa mengirim video. Gambar bergerak itu memampangkan suaminya sedang berdiri di buritan tugboat, mengawasi tumpukan batu bara di atas tongkang yang ditarik; gambar lain sedang berdiri di sisi kemudi kapal, menatap gerak permukaan air laut di depan; lalu gambar yang suka membuat senyumnya mengulum, pada video suaminya sedang telentang tak berbaju di kamar tidurnya di kapal, sambil memonyongkan mulut dengan gaya mengecup.
“Khayalan kamu pasti sama suami, nih, sampai senyum begitu?” goda pemilik salon, yang juga mantan teman sekolahnya dulu.
“Ini juga memang buat menyenangkan suami, kok,” balasnya, tetap memejam.
“Dijamin suami kamu bakal lengket terus,” promosi pemilik salon.
“Mana bisa,” elak Sukiya, tertawa tipis.
“Kenapa tidak?”
“Tiga sampai empat bulan sekali baru suamiku pulang. Jadi, tiga atau empat bulan sekali, dong, baru dia lengket.”
Pemilik salon ikut tertawa, menyahut, “Makanya lem perekatnya harus kuat. Aku sendiri yang akan mengerjakan. Akan kubuat yang bisa memukaunya, agar suamimu selalu ingin menyelesaikan waktu empat bulannya dengan cepat.”
Sukiya balas tertawa kenes. Dalam pejam matanya, ia ingat kebiasaan suaminya: suka menatapnya berlama-lama bila ia berbaring dengan mata memejam. Agar tidak terjebak jenuh, sesekali ia ingin membuat kejutan, seraya berharap itu akan mengawetkan cinta mereka.
***
Komentar beberapa tetangga kian menyemangati Sukiya. Berpapasan di jalanan kompleks, sudah ada yang berdecak, “Wow, kamu makin cantik saja, Kiya.” Akhirnya dengan penuh percaya diri, ia terang-terangan menghadapkan wajah bila ada ibu-ibu tetangganya bersua di jalan. Memang ada yang cuma sekadar tersenyum, tapi ada juga berkomentar, “Aduh, Kiya, di wajahmu ... seperti ada bulan sabit tipis sedang bersinar cerah.”
Kian yakinlah Sukiya pada upayanya memermak wajah di salon itu tidak sia-sia. Sesekali ia mempromosikan juga salon sahabatnya itu, bila ada ibu-ibu tetangga ingin pula memoles wajah agar terlihat lebih cantik. Ia merasa tidak percuma membelanjakan gaji pemberian suaminya, demi menyenangkannya. Ia meyakini cuti suaminya yang tinggal beberapa hari lagi, kali ini akan lebih penuh gairah cinta.
Genap enam tahun usia pernikahannya, Sukiya memang mulai kerap diganggu pikiran: suatu saat suaminya akan melirik perempuan lain yang lebih subur. Enam tahun menikah, rahimnya masih saja kosong tak berpenghuni. Kian kerap pula ia merasa mendengar ada bisikan halus, bahwa daya tariknya mulai luntur, sekerap ia mengeluh di depan sahabatnya si pemilik salon.
“Aku mulai tidak langsing,” keluhnya, di hari lain. Ia duduk bersandar di sofa salon. “Perasaan, aku mulai gendut.”
“Kamu berminat ikut program sedot lemak?” tawar sahabatnya.
“Aku pikir-pikir dulu, deh.” Sekilas Sukiya melirik cermin yang nyaris memenuhi permukaan dinding di belakang sofa. Ia merasa kecantikannya mulai melamur, mengikuti rangkak usia. Di kamarnya juga ada cermin lebar, akhir-akhir ini sering pula menjadi teman curhat, ia suka duduk berlama-lama menatap apa yang kurang untuk segera dipoles di salon sahabatnya ini.
 “Coba lihat, tuh, tepi-tepi pipiku mulai pula mengendur.”
“Kerut-kerut di wajah memang serupa angin kencang, mirip badai, ketika datang amat sulit membendungnya.” Si pemilik salon tergelak. “Dan tugaskulah untuk membendung badai itu.”  
***
Merasa butuh waktu menyendiri, Suar memeram diri dalam kamar. Isi kepalanya bergolak, bingung memikirkan apa yang telah membuat istrinya sampai berani memermak wajah hingga terlihat seaneh itu. Berulang kali istrinya memanggil untuk berlekas ke meja makan, tapi ia tetap bergeming.
Cukup lama jeda waktu itu, sebelum Suar mulai merasa tenang. Ia keluar, duduk di sisi lingkar meja makan, setengah hati memperhatikan gerak tangan istrinya menciduk nasi ke dalam piring di depannya. Suaranya serak tercetus, “Kiya, penampilan yang dibuat-buat tidak akan membuatku mabuk. Kamu lupa, pesona apa dulu yang membuatku tergila-gila padamu?”
Diantarai meja makan, Sukiya ikut duduk, balas menatap sorot mata suaminya. “Sungguh, Pa,” sendatnya, mencoba memohon pengertian, “ini aku lakukan untuk menyenangkanmu.”
“Kamu malah mengecewakanku.”
Ketegangan di meja makan itu coba Sukiya redam dengan lebih banyak bungkam. Mereka kemudian menyelesaikan makan malamnya tanpa bercakap lagi. Sukiya berharap, kemarahan suaminya melihat perubahan penampilannya hanya sesaat, dan kala di kamar tidur nanti akan mengendur sendiri.
Sukiya mencoba tetap riang. Ia ingat lagi kebiasaan suaminya: bila sudah duduk di tepi tempat tidur, dan ia berbaring di dekatnya seraya mengatup mata, maka suaminya suka menatap lekat-lekat sebelum mengecupnya. Ia membayangkan seraya membereskan meja makan.
***
Berbaring di dekat suaminya yang duduk di tepi tempat tidur, Sukiya mulai mengatup mata. Ia agak berdebar menunggu. Ia tidak ingin mengajak suaminya bercakap, khawatir akan memancing pertengkaran bila yang dipercakapkan kembali ke soal penampilan barunya. Mencoba tetap bermanja-manja, ia tumpangkan satu tangan di paha suaminya. Ia yakin, sebentar lagi kesal suaminya akan hilang sendiri.
“Tadi saya sempatkan ke salon temanmu,” sahut Suar, “membeli sesuatu,” seraya terus menatap kelopak mata yang terpejam di dekat pahanya. Semakin lekat menatap, terlihat bola mata istrinya seakan membesar melebihi ukuran sebelumnya. Empat bulan menyabarkan hasrat bersua, memendam angan untuk berlama-lama menatap seperti yang suka ia lakukan, tapi kali ini malah mengecewakan. Tampilan wajah istrinya terlihat asing, bahkan aneh.
Mendengar derit pegas tempat tidur, Sukiya membuka mata. Ia lihat suaminya malah berdiri. Di belakang pintu kamar, suaminya mengambil sesuatu dari saku celana yang tergantung di kapstok.
Suar kembali ke sisi istrinya, berujar, “Pejamkan matamu.”
Sukiya berusaha melihat apa yang ada di tangan suaminya itu, tapi Suar terkesan tidak ingin memperlihatkan. Malah kembali mengulang, “Pejamkan matamu.”
Sukiya hanya sempat melihat wujud benda di tangan suaminya itu sebuah kotak kecil. Ukuran kotak seperti itu dipastikan isinya sebuah perhiasan. Dengan bersemangat, ia katup kembali matanya, dan berpikir sebentar lagi akan ada sebuah kejutan dari suaminya.
“Kamu telah punahkan yang amat kusukai, bahkan amat kukagumi, yang ada padamu, Kiya,” suara suaminya. “Dulu, di awal-awal kita bertemu, sering kukutip kata-kata pujangga, bahwa alismu bak sepasang semut beriring. Sekarang....” Jeda waktu dari terhentinya kata-kata itu, kian mendebarkan dada Sukiya, hingga kemudian keluar kalimat lanjutan yang ia dengar seperti dari tempat sangat jauh, “Kiya, kenapa semut beriring itu kamu punahkan, lalu kamu ganti dengan lukisan seperti garis lengkung langit begitu?”
Sukiya membuka mata, tapi tangan suaminya mengatupkan kembali; dan ia rasakan ada suatu benda yang direkatkan tangan suaminya ke bagian atas kelopak matanya.
“Pakailah ini, selama saya di sini menghabiskan cuti,” sahut suaminya. “Dan saya tidak akan mengambil cuti berikutnya, bila alismu yang bak dua baris semut beriring, yang sangat kusuka itu, belum tumbuh seperti semula.”
Refleks tangan Sukiya bergerak menyentuh benda asing yang melekat di bagian atas kelopak matanya. Ia jadi tahu, yang dilekatkan suaminya ternyata sepasang alis palsu. ***
                                                    Parepare, Apr.-Nov. 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar