Jumat, 07 September 2018

TANAH PEMAKAMAN


Cerpen  ini dimuat pertama kali di koran:  PADANG EKSPRES,  Minggu, 26 Agustus 2018.
Tanah Pemakaman
Oleh  Pangerang P. Muda
          Sirene ambulans membangunkannya. Seketika ia merasa rohnya yang sudah tercerabut tersedot kembali ke dalam raganya. Tadi ia begitu yakin sudah mati, tapi raung sirene itu telah membatalkan kematiannya. Ia duduk, menatap bagian belakang ambulans yang menjauh. Bunyi sirenenya terus menyayup. Seraya berpegangan pada sisi becaknya, ia bayangkan raganya berbaring di dalam ambulans itu.
          Sejenak ia merenungi kematiannya yang urung. Andai rohnya tadi terus melesat meninggalkan raganya, ke mana ia akan dimakamkan? Ia yakin Tuhan berkenan menunda kematiannya untuk memberinya kesempatan menyiapkan dulu tanah pemakamannya.

          Ia masih meriang, lidahnya terasa sepahit peria. Suhu tubuhnya masih tinggi. Seluruh sendi di badannya tercucuk ngilu, serasa ada puluhan mata jarum di situ yang terus bergerak. Sudah dua hari ia tidak dapat berbuat apa-apa. Sekadar duduk pun terasa sulit, apalagi bila harus mengayuh becak tuanya untuk mencari kardus bekas, botol plastik, atau apa saja yang dapat ia jadikan uang pembeli makanan. Untung kemarin ada orang yang iba, lalu meletakkan sebuntal roti di becaknya, hingga lilit perih perutnya agak mereda.
          Bila tidak ada persiapan sepetak tanah, bagaimana nanti orang-orang akan memakamkannya? Ia terus memikirkan, bergidik membayangkan bila jasadnya harus dibuang di laut, lalu jadi santapan ikan-ikan buas. Ia ingin berbaring tenang di dalam alam kematiannya, selayaknya tidur panjang. Kumparan pikiran itu membuatnya ingin berlekas mencari tanah pemakamannya.
***
          Ada tiga areal pemakaman di kota itu. Areal pemakaman tertua ada di daerah perkotaan, dan yang dua lagi berada jauh di luar kota. Ketakmampuan mengayuh becaknya sampai ke luar kota membuatnya fokus saja ke pemakaman tertua yang ada di perkotaan.
          Dengan lemah ia kayuh becaknya. Becak tua itu tidak difungsikan lagi sebagai angkutan penumpang. Dibantu seorang tukang las, bagian depan becak itu dimodifikasi membentuk bak empat persegi panjang. Setelahnya, ke mana-mana ia membawa gulungan terpal yang akan ia bentangkan menutupi bak becaknya itu bila hujan datang. Di situlah ia berumah.
Sudah jelang sore. Ia tahu ajal tidak bisa dikalkulasi kapan datang. Walau sisa-sisa demam tubuhnya masih terasa, tapi ia memaksakan diri. Tuhan sudah mengingatkan malam itu, malam ketika ia terserang demam tinggi, yang sempat ia duga saat-saat kematiannya. Ia yakini itu peringatan agar lebih serius memikirkan tanah pemakamannya.
Tembok yang mengapit gerbang pemakaman sudah beluwek, miring hampir tumbang. Ia tiba di situ, lalu turun mendorong becaknya. Sampai di pertengahan jalan masuk areal pemakaman, ia berhenti, karena di situ nisan-nisan sudah tidak tertata, bertebaran mengalangi jalan. Cucur peluhnya membuatnya merasa sedikit lebih segar.
          “Makam siapa yang dicari?”
          Ia sedang menyeka peluh kala seseorang berteriak dari belakangnya. Tubuhnya sedikit berputar, lalu menatap orang yang mendekat itu.  
Seperti dirinya, kaus yang dikenakan orang itu juga lengket berkeringat. Di seputar ujung kopiah lusuh yang menyungkupi kepala orang itu, menyembul helai-helai rambut berwarna keperakan. Di tangannya tergenggam sabit. Ia menduga orang itu petugas pembersih, atau penjaga tempat pemakaman ini. Ia mengira-ngira umur mereka sepantaran, sama telah melewati lima puluhan.
“Saya ... ingin mencari tempat untuk pemakaman saya.”
          Penjaga itu mengernyit tak paham. “Maksudnya?”
          “Apakah di sini masih ada tempat untuk memakamkan saya?”
          Dengan cepat orang itu menggeleng, kelihatan kaget dan heran. “Di sini tidak ada pemesanan tempat,” ujarnya. “Di sini malah sudah penuh. Paling juga kalau ada yang dimakamkan, biasanya yang punya pengurus kuat di dinas.” Orang itu tersenyum, lalu berbalik pergi.
          Ditinggal oleh penjaga pemakaman malah membuatnya senang. Ia merasa bisa lebih leluasa mencari sendiri tempat pemakaman yang menurutnya cocok, walau dikatakan sudah penuh. Tidak ingin putus harapan, ia kemudian berkeliling, tersaruk di antara nisan-nisan yang tidak teratur. Nisan-nisan itu dipaksakan untuk orang yang dimakamkan di sela nisan sebelumnya, sehingga terlihat saling tumpang-tindih.
          Setelah berkeliling dan mulai merasa lelah, bahkan merasa akan tumbang, akhirnya ia temukan juga sepetak tanah kosong. Sejenak mengamati, ia merasa itu tempat yang nyaman. Posisinya di sudut paling belakang dari areal pemakaman. Sepetak tanah yang berbatasan langsung dengan tembok bagian belakang pertokoan. Tembok tinggi itu menghalangi matahari yang doyong ke barat mengirim panas ke situ. Posisinya pun agak tersembunyi, sehingga ia anggap itu tempat terbaik untuk beristirahat selamanya.
          Ia kembali ke becaknya mengambil beberapa keperluan: air minum dalam botol, sarung, sehelai selimut lusuh, dua lembar kardus mi instan. Barang-barang itu ia susun dengan takzim di atas sepetak tanah tadi. Ia merasa sedang menyiapkan rumah masa depannya.
          Muncul keinginannya merasakan tinggal semalam di situ. Saat mulai duduk di atas kardus yang telah ia hamparkan, dengan tubuh yang terasa amat lelah, terbit pula pikirannya: jangan-jangan ia tidur di situ bukan semalam, tapi selamanya. Jika malam nanti ajal yang tertunda itu kembali mendatangi, maka tentu orang-orang yang kemudian menemukan jazadnya tinggal menguburkan di situ. Ia berharap semudah itulah kematian dan pemakamannya terjadi.
***
          Malamnya ia menggigil. Gerimis mendadak datang dan angin agak kencang bertiup. Awalnya ia ingin pasrah, menunggu kematian benar-benar datang. Ketika separuh malam terlampaui dan ajal tidak juga datang, ia mulai merasa sangat menderita. Gigil tubuhnya ia kekang dengan kemul sarung dan selimut, tapi cucuk dingin angin serta terpaan gerimis membuatnya menyerah. Pertahanannya runtuh, mengubah keinginannya melewati malam menunggu ajal.
          Ia kemasi barang-barangnya. Ia seret goyah tungkainya, menuju ke becaknya. Untung lampu jalan masih berbaik hati mengirim sedikit sinarnya ke tempat itu, sehingga ia terhindar terantuk gundukan tanah dan tebaran nisan. Ia memutuskan pulang, ke sudut kolong jalan layang.
***
          Hiruk pagi tidak membuatnya bangun. Punggungnya tidak kuat lagi diajak duduk. Kepalanya terasa amat berat. Badannya meriang lagi, serasa dikukus suhu tinggi. Tenaga yang tersisa dalam tubuhnya hanya bisa menghela dan melepas napas saja.
Matanya ia pejamkan, mencoba mengingat doa yang pernah ia hapal. Perutnya terus dikikis perih. Ia pasrah, sadar ajalnya segera datang; mungkin saja sedang dalam perjalanan, atau sedang terjebak macet hingga belum sampai-sampai. Atau malah sudah ada di atas kepalanya, sedang bergayut pada langit-langit kolong jalan layang, tengah menatapnya sekarat.
Beberapa gelandangan tetangganya yang biasa tidur merubung di bawah kolong itu sudah menyebar diri, mencari sisa-sisa rezeki dari orang. Ia menyesal kenapa tidak menitip wasiat kepada salah seorang bahwa bila ia mati hari ini, tanah pemakaman telah ia siapkan. Semalam, tempat itu telah ia tandai. Tempat yang sangat ia sukai.
Dalam pejam matanya, ia coba lafazkan doa, memohon agar ada orang mendatanginya. Akan ia bisikkan ke mana jazadnya harus dibawa untuk dimakamkan. Samar ia merasa mulai melihat rohnya bersiap melepas diri dari raganya, mengiringi napasnya yang tersisa satu-satu....
Saat itulah ia dengar ada orang mendekat, makin lama semakin banyak, menyusul sayup suara sirene ambulans.
***
          Entah berapa hari ia di rumah sakit. Ia lalai menghitung karena setiap ia terbangun, yang ia ingat hanya tanah pemakaman itu. Ia yakin sepetak tanah yang telah ditandainya itu tidak ada yang minati karena menyempil dan jauh di belakang areal pemakaman. Buktinya, selama ini tidak ada yang menempati. Ia merasa tanah pemakaman itu memang untuknya. Itulah sampai ketika keluar dari rumah sakit, yang pertama ia lakukan mendatangi tanah pemakaman itu.
          Awalnya ia merasa salah lihat. Tatapannya ke dalam areal pemakaman tidak terhalang pagar tembok. Di sana, sebuah alat berat terus bergerak, suaranya menggerung serupa orang kalap sedang mengamuk. Dan amukannya menyisakan onggokan tembok pagar, tembok kuburan dan pecahan nisan yang bergelimpangan.
          Ia mendekat, dan ia lihat sebagian besar tanah pemakaman menyisakan lubang-lubang persegi yang menganga. Rupanya orang-orang yang telah dikubur di situ telah dipindahkan.
          Penjaga makam yang dulu menanyainya datang mendekat. Begitu mengenali, buru-buru ia bertanya, “Kenapa dibongkar?”
          “Dipindahkan,” jelas penjaga makam. “Dulu pemakaman ini memang di pinggiran kota, tapi pembangunan membuat posisinya sekarang malah ada di tengah kota. Makanya dipindahkan.”
          Ia menatap bingung. “Lalu, tempat ini, buat apa?”
          “Akan dibangun mal.”
          Ia menatap ke sudut terjauh, ke tempat yang ia tandai sebagai tanah pemakamannya. Kelebat pikirannya meruyak. Andai sudah dimakamkan di situ, tentu tidak akan dipindahkan, karena ia tidak punya keluarga untuk mengurus pemindahan kerangkanya. Ia bayangkan dirinya terus berbaring di situ, mungkin sambil memperhatikan orang-orang berparas semringah berlalu-lalang di dalam mal di atas jasadnya. ***
          Parepare, Okt. 2017-Juli 2018.

2 komentar: