Jumat, 07 September 2018

TANAH PEMAKAMAN


Cerpen  ini dimuat pertama kali di koran:  PADANG EKSPRES,  Minggu, 26 Agustus 2018.
Tanah Pemakaman
Oleh  Pangerang P. Muda
          Sirene ambulans membangunkannya. Seketika ia merasa rohnya yang sudah tercerabut tersedot kembali ke dalam raganya. Tadi ia begitu yakin sudah mati, tapi raung sirene itu telah membatalkan kematiannya. Ia duduk, menatap bagian belakang ambulans yang menjauh. Bunyi sirenenya terus menyayup. Seraya berpegangan pada sisi becaknya, ia bayangkan raganya berbaring di dalam ambulans itu.
          Sejenak ia merenungi kematiannya yang urung. Andai rohnya tadi terus melesat meninggalkan raganya, ke mana ia akan dimakamkan? Ia yakin Tuhan berkenan menunda kematiannya untuk memberinya kesempatan menyiapkan dulu tanah pemakamannya.

Rabu, 04 Juli 2018

BAPAK INGIN JADI HALIMUN


Cerpen  ini dimuat di koran:  TRIBUN JABAR (Bandung),  Minggu, 1 Juli 2018.

Oleh  Pangerang P. Muda
Entah keajaiban apa lagi yang datang menggenapi persiapan penguburan Bapak. Sebelumnya, lubang kubur yang kami siapkan terisi air. Lalu saya minta penggali membuat lubang baru. Pada lubang kedua, bahkan kemudian lubang ketiga, ternyata kejadiannya serupa: setiap lubang selesai digali, dasar tanahnya langsung merembeskan air. Rembesan air itu baru berhenti saat permukaannya merendam pinggang penggali.
Rembesan air itu mematikan akalku. Ini musim kemarau, dan areal tempat menyiapkan lubang kubur ada di ketinggian. Aku hanya bisa termangu menatap sekop dan perejang yang bergeletakan, serta para penggali yang berselonjor kelelahan di atas tanah berumput. Tidak terpikir lagi menggali lubang baru. Kuduga hasilnya akan sama saja.  
Kuperintahkan kemudian asisten Bapak mencari pompa air. Solusi itu terlambat melintas di pikiranku. Dua pompa lalu digenjot penuh, menggerung-gerung mengoyak kesenyapan daerah perbukitan.
(versi lengkap cerpen ini akan dibukukan)

Rabu, 06 Juni 2018

MENGIDAM DURIAN MERAH


Cerpen  ini dimuat pertama kali di koran:  BERITAPAGI (Palembang),  Sabtu 2 Juni 2018.

Oleh  Pangerang P. Muda
          Telah separuh malam terlampaui. Harusnya di kamar tidur kami hanya terdengar suara dengkur lelap. Namun, justru pegas tempat tidur yang terus berderit, menyanggah gerak gelisah tubuh istri saya. Ditambah bolak-balik ke kamar mandi, makin sempurnalah gangguan tidur saya malam ini.  
          Ia berbaring lagi, menghadapkan punggungnya ke wajah saya. “Pokoknya, durian merah itu harus ada besok!” sentaknya.
          “Orang bilang bukan musimnya lagi, Ma,” elak saya masygul.
          “Papa saja yang malas cari.” Ia menarik selimut menutupi kepalanya. “Menyenangkan istri, susahnya minta ampun.”
          Saya tersenyum. Pinggangnya saya peluk dari belakang, seraya menyahut, “Sini, saya senangkan.”  

Kamis, 24 Mei 2018

TELINGA


Cerpen ini dipublikasi pertama kali di koran:  BANJARMASIN POST, 20 Mei 2018.

Oleh  Pangerang P. Muda
Di atas tikar plastik, telinga-telinga itu berjejer berpasangan kiri dan kanan. Penjualnya seorang lelaki yang rajin tersenyum lebar, mengintipkan rompal dua gigi depannya sehingga serupa gerbang menuju ke dalam rongga mulutnya. Tangannya tak henti mengibaskan kayu yang di ujungnya diikatkan sobekan-sobekan kain, menghalau lalat yang mencoba mendekat.
Tidak banyak peminat yang berkerumun, sehingga Lamandu bisa menyempilkan badannya mendekat. Sesaat ia mengernyit. Ia mencoba menatap lebih jelas. Merasa kurang yakin, ia menyergah, “Ini telinga betulan?”
          Mulut penjual di belakang jejeran telinga itu ternganga dalam tawa. Gerbang di dalam mulutnya terpampang nyata.
“Betulan dong, Pak. Masak ada telinga palsu?” kilahnya.
(versi lengkap cerpen ini dalam proses dibukukan)

Kamis, 03 Mei 2018

SETITIK DARI SEMILIAR


Cerpen  ini dipublikasi pertama kali di koran: SOLOPOS, 29 April 2018.

Oleh  Pangerang P. Muda
          Ia selalu terlelap lelah. Dengkur pulasnya serupa tidur bayi. Aku suka duduk berlama-lama menatapnya, seraya mencemburui nikmat tidur yang diberikan padanya. Amat berbeda denganku, di mana kelopak mataku serasa ditaburi serbuk insomnia, membuatku kerap melek hingga kokok ayam pertama terdengar.
Kami serupa dua zat yang berbeda, dari semua aspek, tapi toh ada saja cara garis nasib mengatur jodoh sehingga kami disatukan. Di sebuah pameran lukisan, cerita kami berawal. Tidak usah kusebut itu kisah cinta, itu sangat absurd, lebih cocok kalau seperti yang kukatakan tadi: begitulah garis nasib mengatur jodoh kami.
Sebagai pelukis yang belum dikenal, diajak berpameran dengan pelukis-pelukis lain yang sudah terbilang sukses tentu membanggakan. Aku mengikutkan tujuh lukisanku di pameran bersama itu; dan salah satu dari lukisan itu, menjadi titik awal jodoh kami.
(versi lengkap cerpen ini dalam proses dibukukan)

Kamis, 05 April 2018

PENAFSIR MIMPI DAN PERAMAL


Cerpen ini dipublikasi pertama kali di koran :  MINGGU PAGI, Yogya, 16 Maret 2018.

Oleh  Pangerang P. Muda
Sejak terpasang, tulisan besar pada papan nama itu kerap menolehkan kepala orang-orang yang melintas. PENAFSIR MIMPI & PERAMAL. Menafsir Mimpi, Meramal Nasib, Memberi Solusi. Terpasang di bagian kiri rumah, di atas ruang yang dulunya diniatkan untuk garasi.
Di situlah kedua sahabat itu membuka tempat praktik. Sebelumnya, keduanya saling mengenalkan diri di bangku panjang sebuah warung kopi. Sebelum berkenalan itu keduanya kerap berpapasan di trotoar, sering bertemu di emperan toko, dan berkali-kali saling melihat di kerumunan pejalan kaki.
Tidak ada yang menyebutkan nama. Keduanya merasa bangga ketika mengenalkan diri dengan hanya menyebut keahlian masing-masing.
“Saya seorang penafsir mimpi.”
          “Saya seorang peramal.”
          Merasa saling cocok, keduanya lalu menjadi karib.      

Ulasan Kumcer CEMONG karya Ida Fitri




     Apa sih yang kita cari dari susunan kata sekitar 10.000 karakter itu, yang kita sebut cerpen itu?
     Puluhan tahun saya menjadi penikmat cerpen yang memiliki alur cerita lurus-membuai, memesona dan kadang menakjubkan, dengan susunan kata membentuk kalimat yang terkadang serupa ‘atraksi bahasa’, dengan ujung cerita yang menghentak dan membuat nyaman. Hampir semua cerpen yang saya temukan saya baca, tapi pencecap rasa saya baru terasa sedap bila menemukan cerpen dengan adonan menu seperti tadi.
     Pencecap rasa saya dalam menikmati cerpen kemudian terpola, membentuk semacam zona-nyaman; dan justru tanpa sadar malah memerangkap rasa nikmat saya. Cerpen-cerpen Ida Fitri lalu datang membujuk saya: mencoba menarik saya keluar dari zona nyaman itu, mengajak saya berjalan dan kadang berlari-lari di sepanjang alur penceritaannya. Kadang saya diminta berhenti tiba-tiba, lalu membelokkan saya ke tempat lain, hingga saya bisa dibuat terkaget-kaget.